Home Advertorial Festival Literasi Nagekeo 2019: Parade Esu Kose, Kisah Kasih yang Tak Berhingga

Festival Literasi Nagekeo 2019: Parade Esu Kose, Kisah Kasih yang Tak Berhingga

81
0
SHARE
Festival Literasi Nagekeo 2019: Parade Esu Kose, Kisah Kasih yang Tak Berhingga

Keterangan Gambar : Priuk tanah atau podo tanah, makanan hasil esu kose, nasi bambu atau kose.

Sampai di kampung halaman suaminya, tanah itu kemudian berkembang biak sepanjang Bukit Wologai, Ae Ngai. Apabila mengambil tanah dari tempat itu, harus diawali dengan upacara adat yang disebut tu telo, wesa zea yang dilakukan oleh Suku Nio.

Alkisah, seorang gadis cantik dari Tanah Toto dipinang pemuda tampan dari kampung sebelah. Setelah melewati berbagai proses adat-istiadat, si gadis pun harus mengikuti  suaminya yang dikenal dengan istilah nuka sa’o.

Hal ini dilakukan lantaran keluarga si gadis telah menerima sejumlah mas kawin berupa kerbau, sapi, kuda, kambing, dan domba.

Untuk membekali si gadis ke rumah suaminya, orang tuanya menyiapkan berbagai barang seperti babi, beras, tikar, dan bantal.

Bagi seorang gadis, peristiwa meninggalkan rumah orang tuanya adalah sebuah peristiwa yang cukup menyedihkan karena secara adat, sang gadis bukan lagi milik orang tuanya melainkan menjadi milik suaminya.

Maka ketika si gadis harus turun dari rumah orang tuanya – turun karena rumah panggung memiliki tangga  – si gadis pun meminta kepada orang tuanya agar mendapatkan bekal untuk kehidupan selanjutnya.

Si gadis yang kemudian disebut Ine Esa meminta sesuatu kepada ayahnya, dan sang ayah mengabulkannya.

“Saya tidak butuh emas atau barang lain. Saya cukup meminta segenggam tanah agar di tempat baru nanti saya bisa membuat periuk,” kira-kira seperti itu ungkapan Ine Esa.

Singkat cerita, karena kasih sayang orang tuanya yang begitu besar, maka kepada si anak gadis, orang tua memberikan segenggam tanah yang berasal dari tempat pembuatan periuk, disertai sepotong batang bambu yang telah diisi air untuk mencampur tanah dengan air agar dapat membentuk adonan sebagai bahan pembuatan periuk tanah (podo).

Sampai di kampung halaman suaminya, tanah itu kemudian berkembang biak sepanjang Bukit Wologai, Ae Ngai. Apabila mengambil tanah dari tempat itu, harus diawali dengan upacara adat yang disebut tu telo, wesa zea yang dilakukan oleh Suku Nio.

Berpuluh-puluh tahun yang lampau, tempat ini menjadi pusat kerajinan periuk tanah. Konon di tempat asalnya di Tanah Toto, tanah yang ada tidak bisa diproses lebih lanjut menjadi periuk.

Saking besarnya kasih orang tuanya, tanah yang tersisa tidak bisa digunakan lagi. Sepenuhnya telah diberikan kepada anak gadisnya. [Cerita yang diadaptasi dari legenda Suku Lea Wala dan Suku Nio di Desa Woedoa seperti yang disampaikan oleh Bapak Gaspar Taka, Kabag Humas Kabupaten Nagekeo).

Menyadari makin punahnya periuk tanah belakangan ini, Pemerintah Kabupaten Nagekeo mengangkat kembali tradisi ini dengan melakukan Parade 1000 Esu Kose.

Esu berarti periuk tanah untuk memasak nasi dan kose adalah sepotong bambu yang telah diisi daging dan dipanggang di bara api.

Parade ini mengingat kembali betapa masyarakat kita sesungguhnya memiliki kearifan lokal dengan teknologi yang sederhana untuk memproses aneka bahan makanan mentah menjadi makanan masak yang siap saji.

Jauh sebelum teknologi masakmemasak berkembang seperti dewasa ini, masyarakat kita menggunakan sumber daya apa adanya, hanya tanah dan air, menjadi alat untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Alat-alat yang tercipta jauh dari polusi dan kerusakan alam apa pun.

Kiranya dengan munculnya kembali periuk tanah dalam festival literasi ini mengingatkan kita semua bahwa betapa pentingnya melestarikan adat kita yang ternyata sangat ramah lingkungan, sangat bersahaja, murah, dan menyehatkan. Pesan literasi, “mari kita kembali ke alam”. (rf)

[Baca bagian pertama: Festival Literasi Kabupaten Nagekeo Tahun 2019: Dari Nagekeo, NTT Bacarita]

[Baca bagian kedua: Festival Literasi Kabupaten Nagekeo 2019: Dari Nagekeo, NTT Bacarita]


Publikasi ini adalah Kerja Sama Pemerintah Kabupaten Nagekeo dengan Harian Umum Flores Pos.