Home Advertorial Festival Literasi Kabupaten Nagekeo Tahun 2019: Dari Nagekeo, NTT Bacarita

Festival Literasi Kabupaten Nagekeo Tahun 2019: Dari Nagekeo, NTT Bacarita

403
0
SHARE
Festival Literasi Kabupaten Nagekeo Tahun 2019: Dari Nagekeo, NTT Bacarita

Keterangan Gambar : Flyer Festival Literasi Kabupaten Nagekeo Tahun 2019.

“Festival Literasi yang pertama kali kita selenggarakan ini benar-benar memperkenalkan dan membiasakan budaya membaca dan eksplorasi terhadap alam sekitar kita. Melalui Festival Literasi, kita ingin menggali dan membangun peradaban kita dan meningkatkan kemampuan kita dalam menapis informasi yang mengalir deras melalui teknologi informasi dan komunikasi, serta pengaruh buruknya.” — Bupati Nagekeo Johanes Don Bosko Do

Kabupaten Nagekeo akan menggelar perhelatan tingkat Provinsi Nusa Tenggara Timur yang bertajuk Festival Literasi Kabupaten Nagekeo pada 27 September 2019 sampai dengan 30 Desember 2019. Belakangan ini, perhelatan yang bernama festival marak digelar di perbagai daerah di Indonesia, juga di Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan berbagai genre dan tema seturut kekhasan daerah masing-masing.

Demikian pun perhelatan festival di Kabupaten Nagekeo. Meski mengangkat tema yang bersifat universal yakni literasi, kekhasan Kabupaten Nagekeo tetap ditonjolkan dalam festival ini sebagaimana akan ditampilkan dalam Parade Esu Kose (tentang hal ini akan diperjelas kemudian).

Telusuran Google – mesin pencari yang menjadi andalan manusia dewasa ini –, ditemukan bahwa literasi adalah suatu kemampuan seseorang untuk menggunakan potensi dan keterampilannya dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan aktivitas membaca dan menulis.

Namun demikian, makna literasi kemudian bukan sekadar membaca dan menulis. Literasi sesungguhnya adalah setiap aspek kehidupan manusia mulai dari kelahiran hingga kematian, termasuk di dalamnya konsep kehidupan itu sendiri merupakan bagian dari literasi. Kemudian lahirlah konsep multiliterasi yang diterjemahkan sesuai kebutuhan masyarakat (Kompas, 2 September 2019).

Nah, merujuk pada konsep literasi tersebut, Bupati Nagekeo Johanes Don Bosko Do mengatakan bahwa “Festival Literasi adalah kegiatan yang merupakan bagian penting dari upaya kita mencerdaskan masyarakat dalam semua budaya kehidupan. Melalui Festival Literasi, kita pertama kali menampilkan produk-produk budaya masyarakat.”

“Festival Literasi yang pertama kali kita selenggarakan ini benar-benar memperkenalkan dan membiasakan budaya membaca dan eksplorasi terhadap alam sekitar kita. Melalui Festival Literasi, kita ingin menggali dan membangun peradaban kita dan meningkatkan kemampuan kita dalam menapis informasi yang mengalir deras melalui teknologi informasi dan komunikasi, serta pengaruh buruknya.”

Festival Literasi adalah bagian dari jawaban kita terhadap kebijakan pemerintah pusat melalui Perpustakaan Nasional, ingin membangun Perpustakaan Daerah sebagai pusat-pusat peradaban.

Perpustakaan bukan sekadar tempat kita meminjam dan membaca buku, melainkan juga sebagai tempat masyarakat belajar, bertukar pengetahuan dan keterampilan. Perpustakaan menjadi tempat kita memperkenalkan produk budaya kita.

Secara agregatif, diharapkan pusat-pusat peradaban ini menyumbang produk-produk budaya unggul kita bagi kehidupan bangsa dan negara Indonesia. Bapak Gubernur Nusa Tenggara Timur, Viktor Bungtili Laiskodat, menantang kita sebagai penyelenggara Festival Literasi Tingkat Provinsi NTT dengan menunjuk Kabupaten Nagekeo sebagai penyelenggaranya.

Di usianya yang menjelang 12 tahun, pada 8 Desember mendatang, Kabupaten Nagekeo terus berupaya agar eksistensi daerah ini tidak sekadar berada dalam angka statistik sebagai satu dari sekian ratus daerah otonom di Indonesia. Tatkala zaman menafikan batasan ruang dan waktu di seluruh kolong langit ini, maka tidak ada kata lain selain memaknainya sebagai peluang.

Festival Literasi menjadi sebuah batu loncatan untuk memperkenalkan Kabupaten Nagekeo di skala global. Hanya dengan ujung jempol saja, seluruh dunia bisa melihat keindahan Nagekeo bak gadis remaja cantik yang menarik banyak mata untuk terus memandangnya.

Festival Literasi juga membuat anak-anak menyadari benar, ternyata perpustakaan bukan sebagai gudang yang memajang buku-buku kumal dan berdebu, melainkan sebagai tempat kita membuka jendela dunia untuk melihat isi jagad raya ini. Kecintaan anak-anak terhadap membaca dan menulis akan tumbuh seiring berjalannya waktu, ketika mereka menyaksikan sendiri bahwa ternyata dunia pustaka begitu luas, begitu menarik, dan begitu bermakna ketika semua orang ikut meramaikannya.

Data-data miris tentang literasi orang Indonesia (termasuk Nagekeo tentunya) – hanya 1 dari 1000 orang yang membaca buku, peringkat kedua dari terakhir dari jumlah 62 negara di dunia dalam kemampuan berliterasi — kiranya suatu saat hanya sekadar menjadi catatan sejarah. Kita tidak sedang membangun utopia karena kerja keras ke arah sana akan terus dilakukan mengingat Festival Literasi Kabupaten Nagekeo menjadi agenda tahunan daerah ini. (RF)


Publikasi ini adalah Kerja Sama Pemerintah Kabupaten Nagekeo dengan Harian Umum Flores Pos.